Sabtu, 24 Agustus 2019

Anak2 itu...

Pernah pada masanya...
aku mengajar privat anak2 dari orang tua yang hebat... yang ayahnya punya usaha kontruksi dengan banyak mobil beco dan truk, ada lagi yg ayahnya punya toko seperti alfamidi dan juga juragan kos-kosan dan ibunya kerja di kementrian pendidikan, ada juga yang ayahnya punya pabrik di cukanggalih, rumahnya dimana-man bahkan fortunernya dengan flat nama anaknya "R", bahkan sampai yg punya toko roti dan toko pancingan di seluruh curug... maasyaa Alloh... mereka adalah orang tua muslim dan non muslim..

Siangnya aku mengajar di tempat les yang aku rintis sendiri, hanya bermodalkan pengalaman dari mengajarku saat freelance waktu SMK, ditambah dengan beberapa seminar dan training seperti AHE dan jarimatika... di sebuah kontrakan kecil di tengah padatnya penduduk desa, dekat dengan kelurahan, masjid, lapangan, puskesmas dan sekolah favorit... tempat yang strategis... malamnya aku mengajar privat untuk mengaji dan belajar di rumah2 murid2..

Anak2 itu... mereka sekolah di sekolahan elit dan swasta yang relatif mahal, dimulai dari islamic village, al Fityan, DR, Karlina bahkan Strada...
Aku cukup meyakini, bahwa guru2 mereka di sekolah sudah maksimal dalam pengajaran...

Tapi setiap orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik dan menjadikan anaknya terbaik juga di sekolah... sehingga mereka rela biarkan anak2nya les bahkan hampir setiap hari... dan sedikit kebanggan karena mereka mendatangi ku... alhamdulillaah...

Justru disinilah terkadang tantanganku... sedih melihat mereka dengan pulang sekolah dalam keadaan letih... jikapun mereka aktif, mungkin sudah jengah melihat buku lagi buku lagi saat di luar sekolah... tetapi diamanahkan diriku, harus bertanggung jawab akan hal itu...

Sering kali mereka datang, sembarang taruh tas dan sepatu... lalu langsur tidur-tiduran disampingku... atau bercerita tentang sekolah, atau diam dan membisu... kadang malah sibuk main dengan kucingku... membiarkan mereka itu caraku, atau hanya mendengarkan dan menyimak mereka... membuat mereka tenang dan nyaman... mungkin cuma di tempat les ku yang seperti daycare ^^, bebas waktu bahkan kadang orang tua lupa jemput... hihiii

setiap anak berbeda, metodenya pun berbeda... aku pelajari setiap diri dari mereka... yg tidak mau menyentuh buku, diakali dengan hanya sekedar tanya jawab dan dialog, sampai mereka bilang "ohh gitu, iya bener, sip sip" belajar cukup disitu karena berarti mereka sudah faham... ada yg maunya kuis dengan papan tulis, tidak mau lagi pegang pensil dan buku... yasudah sibukkan saja mereka dengan soal2 dikte, dengan jawaban langsung di papan tulis atau mereka yang tulis soalnya sendiri, aktifkan mereka dengan caranya sendiri... ada juga tipe anak2 manja dan tipe anak2 mandiri...

Tingkatan mereka pun beda2, dari yang anak2 usia dini sampai kelas 6 SD... ada yang panggil miss nina ataupun bu nina... hingga qodarulloh motorku hilang, dan tidak bisa lagi mengajar... terpaksa aku harus pindah ke depan rumah... tapi maasyaa Alloh... mereka mau mengikutiku... hiiikksss terharu... bahwa cinta itu magnet... kepolosan anak2 dan ketulusan hatiku, dibantu dengan usaha orang tua yang support selalu, saling sinergi... dan keberkahan pun muncul... begitu indah...


Dan...
Kini...
Aku berharap, suatu saat nanti ada seorang yang mau amanahkan anak2nya lagi padaku... dari seorang nomor satu yang paling penting di dunia, dari seorang yang hebat yang bisa membuka pintu surga... anak2 dari suamiku... anak2ku...
Untuk calon suamiku, calon imamku, calon ayahnya anak2 ku...
ijinkan aku menjadi madrosatul 'ula untuk anak2 kita... membimbing mereka dgn cinta dan cukup belajar di rumah sambil menghafal qur'an... menyemai mereka dengan kasih sayang di usia anak2 mereka yg singkat, dan menyiapkan mereka sampai mereka siap dalam asuhan pondok untuk mendapatkan guru2 yang lebih baik lagi dari ibunya...
Agar tak ada beban dihatinya, agar ia tulus berjuang dalam ilmu dan islam, hingga Alloh muliakan derajatnya... 

Kamis, 30 Mei 2019

Langkah selangkah...

Hanya untuk pengingat diri dan sebagai rujukan untuk saudara2 n teman2 yg ingin belajar islam lbh baik...

 Aku bukan anak ustadz, bkn anak lulusan pondok, tdk ada yg mengajari agama, balajar islam hanya sebatas di madrasah ibtidaiyah setelah pulang dari SD, ngaji iqro di kampung yg lbh banyak main n makan bala2 dibanding ngajinya 🤭😝, lanjut smp negri dan smk akuntansi, yg belajar agama hanya 1 jam/pekan...

 Tidak mengenal ustadz2 kecuali yg di tv, tidak mengenal ulama2 apalagi ulama besar di saudi, Tidak mengenal 4 imam besar hanafi, malik, syafi'i dan hanbali... tdk mengenal siapa imam periwayat hadits Bukhori, muslim, abu daud, turmudzi dll Sudah besar ikutan ngaji, taunya ngajinya bahas partai politik, melulu yg dibahas imam hasan albana, tdk mengerti tauhid, fiqih, muamalah, adab... lagi2 hanya bahas bagaimana berebut kekuasaan dgn alasan agar tidak dikuasai orang jahat, laaah tapinya presidennya korupsi sapi... astaghfirulloh...

 Aku pun nekat kuliah di uin, demi langkahkan kaki untuk belajar islam lagi... gak tanggung2 malah masuk prodi tarbiyah bahasa arab 😅... Bekal nol besar dgn otak yg sama sekali kosong nahwu shorof muhadatsah qiroaah, bahkan mufrodat aja blank... hanya tau Hadza hadzihi 😂😂😂 yaaa robbiii...

 Tapi aku dibersamai teman2 yg baik, yg lulusan ponpes sana sini... aku pun terbuka dgn anak2 santri... luvvvv youuu pba1❤❤❤ Tapi aku belum puas, tidak menjamin lulusan ponpes benar2 baik ilmu n akhlaknya, yg pacaran banyaak... pakaian yg jeans banyaaak... yg akhwat tabarruj, yg ikhwan modus... bukan salah ponpesnya, kembali lagi pada perorangannya.... seperti bukan salah agama islamnya, tpi kembali lgi muslimnya...🧐🧐🧐

 Di uin aku semakin dewasa, out of the box... seminar n kajian apa saja ku datangi, apalagi kalo ada nasi box dibagi2 😂😂😂 subhanalloh ketika perut abaikan pikiran... Tapi dari situ aku mempelajari... Oh ini JIL, ini syi'ah, ini NU, ini HTI, ini IM, ini islam ktp, ini dan itu... Dan sekali lagi, bersyukurku bahwa Alloh lagi2 memberiku jalan... Jalan dimana sekarang aku berdiri... ~bersambung

Sabtu, 02 Juni 2018

Hanya Wanita Akhir Zaman

Aku bukanlah wanita semulia khadijah
Bukan secerdas aisyah
Tak secantik shofiyyah
Apalgi seberani sumayyah hingga syahid

Hanya wanita akhir zaman
Yang rindukan surga
Surga yg mudah didapat pd ridho suami atas rahmatNya...

Hanya wanita separuh akal
Dengan segala keterbatasan
Yang membutuhkan pemimpin agar aku lebih terarah...

Hanya wanita tulang punggung yang masih harus bekerja karna bukan anak raja apatah lagi anak pejabat
Yang yatim dri kecil dengan warisan seorang adik bayi lucu berumur sebulan

Hanya wanita biasa yang tidak ingin menjalani islam biasa2...
Selalu berkeingin tahuan, kritis dan kadang malas

Hanya wanita yang mengais hidayah krna fitnah hizbiyyah lalu kenali manhaj salaf dan hijrah...

Hanya wanita yg harus berbagi waktu, 12jam kerja sisanya kluarga dan kitab2nya...
Yg terkadang kajian pekanan pun luput karna minggu pun masuk kerja, tgl merah pun kerja...

Hanya wanita yg rindukan surga...
Rindukan separuh agama
Rindukan suami yg bisa berbagi nafkah
Rindukan menjadi sesosok wanita yg seharusnya...
Menjadi istri sholihah dan ibu sholihah yg betah di rumah...


Tapi....
Masih harus ku bersabar...
Karna kehendakNya lebih indah dri kerinduan itu...

Berdoa, berdoa dan berdoalah..

4 ramadhan 2018

Sabtu, 12 Mei 2018

Buah merindu

Seperti buah muda pada ranting, menanti dipilih dan dipetik...
Tapi aku begitu rindu hingga cemas dan terjatuh,
karna Rapuh dihempas angin...

Berdentum suara rindu dalam tarikan gravitasi bumi, hingga menggelinding jauh ingin hampiri kaki sang pemetik...

Hanya ingin sadarkan, bahwa aku ada untukmu. ..
aku ada dlam laparmu, mengisi rasa manis lidahmu, hingga beri kembali energimu...

Tapi... menyentuh kakimu, tak sampaikan rasa itu ke hatimu...

Karna, kamu tetap diamkan sentuhan itu...





Bumi merindu, 13052018

Rabu, 11 November 2015

Pakaian syar'i tapi MODIS????

Baju Syar'i tapi modissssss???
Baju yang katanya Syar'i tapi ada bla-bla-bla...
Panjang sih, tapi warna-warni.
Tertutup sih, tapi pita sana-sini,

Apa menurutmu?

heum..
Sebenarnya bukan untuk menasihati apalagi menjelaskan dengan dalil,
Hufht... bukan ranah saya melainkan mereka yang lebih berilmu, lebih faham, lebih belajar, lebih AHLInya...
dan mereka pun sudah banyak menjelaskan, hanya tinggal kitanya aja apakah mau tambah ilmu, tambah faham dan tambah belajar???

Lengkapnya bisa baca ini --> http://muslimah.or.id/3592-lindungi-diri-dengan-jilbab-syari.html
Atau ini --> http://muslim.or.id/26725-makna-hijab-khimar-dan-jilbab.html
Ini juga boleh banget --> http://muslimah.or.id/65-jilbabku-penutup-auratku.html
yang ini penting --> http://muslimah.or.id/5760-saudariku-kembalilah-ke-hijab-asalmu.html
dan ini juga --> http://muslimah.or.id/7631-jilbabku-syari-ataukah-modis.html
yang ini nih, mumtaz lah --> http://muslimah.or.id/221-ujung-pakaianku-penyapu-jalanan.html

 

Ini hanya seketik cerita, miris dalam realita.
Kenapa pakaian syar'i *(udah baca linknya kan?? so udah faham dong apa itu pakaian syar'i?!!)
Kenapa pakaian syar'i seakan musuh bagi kalian??
Iya kalian!!
ABG bilang begini "Ada Ninjaaaa!!" pada aku dan temanku yang bercadar saat kajian di Blok M
Ibu-ibu bilang juga begini "yang pakai baju itumah istrinya teroris"
hiiiks... sedih..
padahal apa yang dirugikan dari pakaian mereka??
Kalian rugikah jika melihat pemandangan seperti itu??
yah... biasanya kalian untung disajikan pemandangan manusia-manusia setengah telanjang, iya kan??
Tiba-tiba sekarang banyak yang pakai baju syar'i lantas kalian marah...

yang lebih parah lagi adalah, mereka yang sudah "ngaji" *(Katanya siiih kajian versi kelompoknya, kajian hizbi-hizbi)
bilang begini "baju salaf mah ga modis, bingung bedainnya mana kepala mana kaki"
hiiiks iya kali orang jalan pakai kepala!!!
geregettttt deh, katanya udah ngaji, udah faham tapi koo bisa berkata seperti itu pada muslimah yang lain...
Jika itu maksudnya hanya bercanda,
Wallohi... Rosululloh Sholallohu "alaihi wassallaam pun marah pada mereka yang menjadikan agama sebagai olok-olokan atau bahan bercandaan..
ada di dalam kitab Tauhid.



BAB 48

BERSENDA GURAU DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH, ALQUR’AN ATAU RASULULLAH .





Firman Allah :

ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وأياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم
“Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik ( tentang apa yang mereka lakukan ) tentulah mereka akan menjawab : ‘sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain main saja’, katakanlah : ‘apakah dengan Allah, ayat ayat Nya dan RasulNya kalian selalu berolok-olok ?’, tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…” ( QS. At taubah, 65 – 66 ).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar , Muhammad bin Kaab, Zaid bin Aslam, dan Qatadah, suatu hadits dengan rangkuman sebagai berikut : “Bahwasanya ketika dalam peperangan tabuk, ada seseorang yang berkata : “Belum pernah kami melihat seperti para ahli membaca Alqur’an (qurra’) ini, orang yang lebih buncit perutnya, dan lebih dusta mulutnya, dan lebih pengecut dalam peperangan”, maksudnya adalah Rasulullah dan para sahabat yang ahli membaca Al Qur’an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “kau pendusta, kau munafik, aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah ”, lalu berangkatlah Auf bin Malik kepada Rasulullah untuk memberitahukan hal ini kepada beliau, akan tetapi sebelum ia sampai , telah turun wahyu kepada beliau.
Dan ketika orang itu datang kepada Rasulullah , beliau sudah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya, maka berkatalah ia kepada Rasulullah : “ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang yang mengadakan perjalanan untuk menghilangkan penatnya perjalanan”, kata Ibnu Umar : “sepertinya aku melihat orang tadi berpegangan sabuk pelana unta Rasulullah, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata : “kami hanyalah bersenda gurau dan bermain main saja”, kemudian Rasulullah bersabda kepadanya :
" أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤون "
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat Nya, dan RasulNya kamu selalu berolok olok ”.
Rasulullah mengatakan seperti itu tanpa menengok, dan tidak bersabda kepadanya lebih dari pada itu.


Kandungan bab ini :
1-Masalah yang sangat penting sekali, bahwa orang yang bersenda gurau dengan menyebut nama Allah, ayat ayat Nya dan RasulNya adalah kafir.
2-Ini adalah penafsiran dari ayat diatas, untuk orang yang melakukan perbuatan itu, siapapun dia.
3-Ada perbedaan yang sangat jelas antara menghasut dan setia Allah dan RasulNya. [dan melaporkan perbuatan orang orang fasik kepada waliyul amr untuk mencegah mereka, tidaklah termasuk perbuatan menghasut tetapi termasuk kesetiaan kepada Allah dan kaum muslimin seluruhnya].
4-Ada perbedaan yang cukup jelas antara sikap memaafkan yang dicintai Allah dengan bersikap tegas terhadap musuh musuh Allah.
5-Tidak setiap permintaan maaf dapat diterima. [ada juga permintaan maaf yang harus ditolak].


sumber : KITAB TAUHID

للشيخ محمد بن عبد الوهاب

SYEKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Disusun Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy

Disebarkan Pada Maktabah Ma’had Anshorulloh As –Salafiy


Hati-hatilah kawan...
Jika Tak bisa seperti mereka maka jangan hinakan, jika tak INGIN seperti mereka maka jangan mencari alasan seakan-akan kalian lebih baik dari mereka...
Mari merangkak kedalam 'ilmu Alloh, agar faham bagaiman kita bersikap dan menjalani hidup ini.

Adakah persamaan dari kata Syar'i dan modis??
seperti memaksa menyamakan kata "MANUSIA" turunan manusia purba dan "MANUSIA" turunan nabi adam, jelas berbeda...
Jika dua kata itu bisa beriringan, dampaknya terlihat sudah...
Luntur maknanya, karena apa beda hijabers dengan mereka yang ngakunya hijab syar'i tapi masih tabarruj...
tabarruj?? ya berhias diri dihadapan nonmahrom.
ya, seperti aku dulu yang dalam hati masih ada keinginan terlihat dan dilihat cantik..
Masih ingin gamis cantik dengan motif ini dan itu...
Kerudung cantik dengan warna ini dan itu...
Bross dan Kerdudung dimodel ini dan itu...
yah... walau lebar jika warna seperti kupu-kupu indah, jelas itupun mengundang banyak perhatian orang dan itu sudah masuk kedalam tabarruj...
Apalagi, label AKHWAT yang begitu menonjol dalam pandangan...
Menjadi pusat perhatian dan menyejukkan mata..

pernah mendengar Audio kajian Ustadz Zainudin (semoga Alloh memberkahinya) dan ada seorang ikhwan yang bertanya (curhat sih sebenarnya)
dia mengatakan, istrinya semakin cantik tatkala memakai baju syar'i dan iapun tak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya mengajar disekolah dengan pakaian itu...
Itulah godaan para laki-laki, seorang akhwat dengan kerudung lebarnya menjadi godaan bagi para ikhwan yang sudah ngaji ataupun laki-laki preman sekalipun.
pernahkah kita sadari, sebagai seorang akhwat ketika ada laki-laki yang menyebut kita cantik... apa kata hatimu??
Pasti berbunga-bunga, berseri seperti tomat merah, tersenyum dan tersipu malu...
tapi sebenarnya itu musibah dan diri ini menjadi fitnah wanita bagi para laki-laki itu...

Semoga tulisan ini menjadi ALARM buat diri pribadi untuk terus belajar dan mamakai pakaian syar'i.
diselesaikan di bumi cinta.
30 Muharom 1437 H ~12112015~
Nina bintu Muchtar



Jumat, 30 Oktober 2015

Apa itu WAHABI??

Bismillaah.

Beberapa waktu lalu, ada pesan masuk di What's App. Mengirim2 gambar2 yang menghina dakwah tauhid dan menjelek2an kata "Salaf". Dan juga mengirim tulisan yang berisikan pendapat dia tentang hadist nabi Sholallohu 'alaihi wasallaam. (yah, hanya tersenyum-senyum membacanya, mungkin merasa keren dan ahli hadits kali yahh, sampai punya pendapat sendiri wkwkwk... subhanalloh...)
Aku tak mengenal orang itu, ia mengaku namanya Anis* dan mau ngajak ketemuan. (ihhh serem banget kan, nanti aku dibrain wash lagi).
Katanya, jangan tertipu kata-kata manis WAHABI. (nah dari sini sudah jelas tujuannya apa, dan kok bisa tau nomor WA aku yah? segitu hebat yah niat dan usaha mereka. langsung tau siapa aku, ternyata ada yang memperhatikan dan mengawasi, hihi sok sweet yah...)

Akupun bercerita dengan ummahat di grup WA Sharing Assunnah, yang pesertanya dari Sukabakti (aku doang ding dari sukabakti), dari perumahan Griya Karawaci, Binong dan Taman Ubud Karawaci. Yang memang kita sering bertemu di majlis 'ilmu di Masjid An Nur kampus Pramita Karawaci, atau dulu saat aku masih bisa hadir kajian di Masjid Al Hidayah Lippo Karawaci (belakang Apartemen Amartapura). Ternyata Ummu Lutfan juga sering diteror seperti itu. karena no. hp beliau menjadi CP untuk info2 kajian sehingga "mereka" langsung menjadikan beliau target untuk hujatan dan cacian serta kabar-kabar yang tidak jelas. Banyak juga yang sengaja untuk berdebat, maka saran dari Beliau adalah tinggalkan dan kalo bisa blok aja no wa nya biar gak "nyampah" dan mengotori hati kita dengan kata-kata jelek mereka.

Akupun heran, kok ada yah yang seperti itu, yang kerjaannya memfitnah, mengkoreksi dalil dan hadits sesuai pendapat mereka. ini dalil loh bukan hanya sekedar tulisan dibuku atau skripsi seseorang.
sebuah buku ataupun skripsi saja ada sumbernya, harus jelas referensinya. nah bagaimana bisa dia mengKOREKSI hadist nabi sholallohu 'alaihi wasallaam. Yang bahkan para ulama dalam mengkaji hadist harus merunutkan riwayat dan perawinya, bagaimanan kedudukan hadist itu, pada saat kejadian apa hadist itu disampaikan, bahkan tafsir hadist pun ada Prodi tersendiri di fakultas2 ilmu islam.

Siapa kita sih... yah yang 'ilmunya tidak ada setitik, yang amalnya tidak ada setetes, yang cintanya tidak ada seujung jarum, berani melangkahi hadist nabi dengan mulut kesombongan dan kesoktahuan demi melakukan nafsu dan kebiasaan yang salah, demi menghalalkan dan membolehkan kelakuan yang dianggap itu adalah ibadah. (mbok yaa nurut gitu apa kata nabi...)

Jadi, karna hal itu mari mencari tahu apa itu isu wahabi, semoga kita terhindar dari fitnah dan faham dengan kabar2 burung yeng berterbangan. dan dijauhi dari sifat ikut2an. kecuali ikutan Nabi Muhammas Sholallohu 'Alaihi Wasallaam.

**Selamat membaca, baarokalloh fiikum**



إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فإن أصدقَ الحديث كتاب الله وخيرَ الهدي هديُ محمد صلى الله عليه وسلم وشرَّ الأمور محدثاتها وكلَّ محدثة بدعة وكلَّ بدعة ضلالة وكلَّ ضلالة في النار، أما بعد ؛
Pertama dan utama sekali kita ucapkan puji syukur kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga pada kesempatan yang sangat berbahagia ini kita dapat berkumpul dalam rangka menambah wawasan keagamaan kita sebagai salah satu bentuk aktivitas ‘ubudiyah kita kepada-Nya. Kemudian salawat beserta salam buat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah bersusah payah memperjuangkan agama yang kita cintai ini, untuk demi tegaknya kalimat tauhid di permukaan bumi ini, begitu pula untuk para keluarga dan sahabat beliau beserta orang-orang yang setia berpegang teguh dengan ajaran beliau sampai hari kemudian.

Selanjutnya tak lupa ucapan terima kasih kami aturkan untuk para panitia yang telah memberi kesempatan dan mempercayakan kepada kami untuk berbicara di hadapan para hadirin semua pada kesempatan ini, serta telah menggagas untuk terlaksananya acara tabliq akbar ini dengan segala daya dan upaya semoga Allah menjadikan amalan mereka tercatat sebagai amal saleh di hari kiamat kelak, amiin ya Rabbal ‘alamiin.
Dalam kesempatan yang penuh berkah ini, panitia telah mempercayakan kepada kami untuk berbicara dengan topik: Apa Wahabi Itu?, semoga Allah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kami dalam mengulas topik tersebut.
Pertanyaan yang amat singkat di atas membutuhkan jawaban yang cukup panjang, jawaban tersebut akan tersimpul dalam beberapa poin berikut ini:
  • Keadaan yang melatar belakangi munculnya tuduhan wahabi.
  • Kepada siapa ditujukan tuduhan wahabi tersebut diarahkan?.
  • Pokok-pokok landasan dakwah yang dicap sebagai wahabi.
  • Bukti kebohongan tuduhan wahabi terhadap dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
  • Ringkasan dan penutup.
Keadaan yang Melatar Belakangi Munculnya Tuduhan Wahabi
Para hadirin yang kami hormati, dengan melihat gambaran sekilas tentang keadaan Jazirah Arab serta negeri sekitarnya, kita akan tahu sebab munculnya tuduhan tersebut, sekaligus kita akan mengerti apa yang melatarbelakanginya. Yang ingin kita tinjau di sini adalah dari aspek politik dan keagamaan secara umum, aspek aqidah secara khusus.
Dari segi aspek politik Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah, terlebih khusus daerah Nejd, perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.
Para penguasa hidup dengan memungut upeti dari rakyat jelata, jadi mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat akan menggoyang kekuasaan mereka, begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama dengan benar, dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.
Dari segi aspek agama, pada abad (12 H / 17 M) keadaan beragama umat Islam sudah sangat jauh menyimpang dari kemurnian Islam itu sendiri, terutama dalam aspek aqidah, banyak sekali di sana sini praktek-praktek syirik atau bid’ah, para ulama yang ada bukan berarti tidak mengingkari hal tersebut, tapi usaha mereka hanya sebatas lingkungan mereka saja dan tidak berpengaruh secara luas, atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang karena jumlah mereka yang begitu banyak di samping pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktek-praktek syirik dan bid’ah tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu, sebagaimana keadaan seperti ini masih kita saksikan di tengah-tengah sebagian umat Islam, barangkali negara kita masih dalam proses ini, di mana aliran-aliran sesat dijadikan segi batu loncatan untuk mencapai pengaruh politik.
Pada saat itu di Nejd sebagai tempat kelahiran sang pengibar bendera tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat menonjol hal tersebut. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, bahwa di masa itu pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya. Karena ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktek-praktek syirik terjadi di sana sini seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sesajian, atau mempercayai dukun, tukang tenung dan peramal. Salah satu daerah di Nejd, namanya kampung Jubailiyah di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam perperangan melawan Musailamah Al Kadzab, manusia berbondong-bondong ke sana untuk meminta berkah, untuk meminta berbagai hajat, begitu pula di kampung ‘Uyainah terdapat pula sebuah pohon yang diagungkan, para manusia juga mencari berkah ke situ, termasuk para kaum wanita yang belum juga mendapatkan pasangan hidup meminta ke sana.
Adapun daerah Hijaz (Mekkah dan Madinah) sekalipun tersebarnya ilmu dikarenakan keberadaan dua kota suci yang selalu dikunjungi oleh para ulama dan penuntut ilmu. Di sini tersebar kebiasaan suka bersumpah dengan selain Allah, menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan serta berdoa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya dsb (lihat pembahasan ini dalam kitab Raudhatul Afkar karangan Ibnu Qhanim). Begitu pula halnya dengan negeri-negeri sekitar hijaz, apalagi negeri yang jauh dari dua kota suci tersebut, ditambah lagi kurangnya ulama, tentu akan lebih memprihatinkan lagi dari apa yang terjadi di Jazirah Arab.
Hal ini disebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’: “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu, kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya, sedangkan kesyirikan pada zaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya.” Dalilnya firman Allah:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.” (QS. al-Ankabut: 65)
Dalam ayat ini Allah terangkan bahwa mereka ketika berada dalam ancaman bencana yaitu tenggelam dalam lautan, mereka berdoa hanya semata kepada Allah dan melupakan berhala atau sesembahan mereka baik dari orang sholeh, batu dan pepohonan, namun saat mereka telah selamat sampai di daratan mereka kembali berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang melakukan syirik dalam setiap saat.
Dalam keadaan seperti di atas Allah membuka sebab untuk kembalinya kaum muslimin kepada Agama yang benar, bersih dari kesyirikan dan bid’ah.
Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:
« إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا »
“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya.” (HR. Abu Daud no. 4291, Al Hakim no. 8592)
Pada abad (12 H / 17 M) lahirlah seorang pembaharu di negeri Nejd, yaitu: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Dari Kabilah Bani Tamim.
Yang pernah mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Bahwa mereka (yaitu Bani Tamim) adalah umatku yang terkuat dalam menentang Dajjal.” (HR. Bukhari no. 2405, Muslim no. 2525)
tepatnya tahun 1115 H di ‘Uyainah di salah satu perkampungan daerah Riyadh. Beliau lahir dalam lingkungan keluarga ulama, kakek dan bapak beliau merupakan ulama yang terkemuka di negeri Nejd, belum berumur sepuluh tahun beliau telah hafal al-Qur’an, ia memulai pertualangan ilmunya dari ayah kandungnya dan pamannya, dengan modal kecerdasan dan ditopang oleh semangat yang tinggi beliau berpetualang ke berbagai daerah tetangga untuk menuntut ilmu seperti daerah Basrah dan Hijaz, sebagaimana lazimnya kebiasaan para ulama dahulu yang mana mereka membekali diri mereka dengan ilmu yang matang sebelum turun ke medan dakwah.
Hal ini juga disebut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya Ushul Tsalatsah: “Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib atas kita untuk mengenal empat masalah; pertama Ilmu yaitu mengenal Allah, mengenal nabinya, mengenal agama Islam dengan dalil-dalil”. Kemudian beliau sebutkan dalil tentang pentingnya ilmu sebelum beramal dan berdakwah, beliau sebutkan ungkapan Imam Bukhari: “Bab berilmu sebelum berbicara dan beramal, dalilnya firman Allah yang berbunyi:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Ketahuilah sesungguhnya tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan minta ampunlah atas dosamu.” Maka dalam ayat ini Allah memulai dengan perintah ilmu sebelum berbicara dan beramal”.
Setelah beliau kembali dari pertualangan ilmu, beliau mulai berdakwah di kampung Huraimilak di mana ayah kandung beliau menjadi Qadhi (hakim). Selain berdakwah, beliau tetap menimba ilmu dari ayah beliau sendiri, setelah ayah beliau meninggal tahun 1153, beliau semakin gencar mendakwahkan tauhid, ternyata kondisi dan situasi di Huraimilak kurang menguntungkan untuk dakwah, selanjut beliau berpindah ke ‘Uyainah, ternyata penguasa ‘Uyainah saat itu memberikan dukungan dan bantuan untuk dakwah yang beliau bawa, namun akhirnya penguasa ‘Uyainah mendapat tekanan dari berbagai pihak, akhirnya beliau berpindah lagi dari ‘Uyainah ke Dir’iyah, ternyata masyarakat Dir’iyah telah banyak mendengar tentang dakwah beliau melalui murid-murid beliau, termasuk sebagian di antara murid beliau keluarga penguasa Dir’iyah, akhirnya timbul inisiatif dari sebagian dari murid beliau untuk memberi tahu pemimpin Dir’yah tentang kedatangan beliau, maka dengan rendah hati Muhammad bin Saud sebagai pemimpin Dir’iyah waktu itu mendatangi tempat di mana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menumpang, maka di situ terjalinlah perjanjian yang penuh berkah bahwa di antara keduanya berjanji akan bekerja sama dalam menegakkan agama Allah. Dengan mendengar adanya perjanjian tersebut mulailah musuh-musuh Aqidah kebakaran jenggot, sehingga mereka berusaha dengan berbagai dalih untuk menjatuhkan kekuasaan Muhammad bin Saud, dan menyiksa orang-orang yang pro terhadap dakwah tauhid.
Kepada Siapa Dituduhkan Gelar Wahabi Tersebut
Karena hari demi hari dakwah tauhid semakin tersebar mereka para musuh dakwah tidak mampu lagi untuk melawan dengan kekuatan, maka mereka berpindah arah dengan memfitnah dan menyebarkan isu-isu bohong supaya mendapat dukungan dari pihak lain untuk menghambat laju dakwah tauhid tersebut. Diantar fitnah yang tersebar adalah sebutan wahabi untuk orang yang mengajak kepada tauhid. Sebagaimana lazimnya setiap penyeru kepada kebenaran pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan onak duri dalam menelapaki perjalanan dakwah.
Sebagaimana telah dijelaskan pula oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau Kasyfus Syubuhaat: “Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya di antara hikmah Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak diutus seorang nabi pun dengan tauhid ini, melainkan Allah menjadikan baginya musuh-musuh, sebagaimana firman Allah:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh (yaitu) setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada bagian yang lain perkataan indah sebagai tipuan.” (QS. al-An-‘am: 112)
Bila kita membaca sejarah para nabi tidak seorang pun di antara mereka yang tidak menghadapi tantangan dari kaumnya, bahkan di antara mereka ada yang dibunuh, termasuk Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari tanah kelahirannya, beliau dituduh sebagai orang gila, sebagai tukang sihir dan penyair, begitu pula pera ulama yang mengajak kepada ajarannya dalam sepanjang masa. Ada yang dibunuh, dipenjarakan, disiksa, dan sebagainya. Atau dituduh dengan tuduhan yang bukan-bukan untuk memojokkan mereka di hadapan manusia, supaya orang lari dari kebenaran yang mereka serukan.
Hal ini pula yang dihadapi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam lanjutan surat beliau kepada penduduk Qashim: “Kemudian tidak tersembunyi lagi atas kalian, saya mendengar bahwa surat Sulaiman bin Suhaim (seorang penentang dakwah tauhid) telah sampai kepada kalian, lalu sebagian di antara kalian ada yang percaya terhadap tuduhan-tuduhan bohong yang ia tulis, yang mana saya sendiri tidak pernah mengucapkannya, bahkan tidak pernah terlintas dalam ingatanku, seperti tuduhannya:
  • Bahwa saya mengingkari kitab-kitab mazhab yang empat.
  • Bahwa saya mengatakan bahwa manusia semenjak enam ratus tahun lalu sudah tidak lagi memiliki ilmu.
  • Bahwa saya mengaku sebagai mujtahid.
  • Bahwa saya mengatakan bahwa perbedaan pendapat antara ulama adalah bencana.
  • Bahwa saya mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang saleh (yang masih hidup -ed).
  • Bahwa saya pernah berkata; jika saya mampu saya akan runtuhkan kubah yang ada di atas kuburan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Bahwa saya pernah berkata, jika saya mampu saya akan ganti pancuran ka’bah dengan pancuran kayu.
  • Bahwa saya mengharamkan ziarah kubur.
  • Bahwa saya mengkafirkan orang bersumpah dengan selain Allah.
  • Jawaban saya untuk tuduhan-tuduhan ini adalah: sesungguhnya ini semua adalah suatu kebohongan yang nyata. Lalu beliau tutup dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kalian tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan.” (QS. al-Hujuraat: 6) (baca jawaban untuk berbagai tuduhan di atas dalam kitab-kitab berikut, 1. Mas’ud an-Nadawy, Muhammad bin Abdul Wahab Muslih Mazlum, 2. Abdul Aziz Abdul Lathif, Da’awy Munaawi-iin li Dakwah Muhammad bin Abdil Wahab, 3. Sholeh Fauzan, Min A’laam Al Mujaddidiin, dan kitab lainnya)
-bersambung insya Allah-
*) Penulis adalah Rektor Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii,  Jember, Jawa Timur
***
Disampaikan dalam tabligh Akbar 21  Juli 2005 di kota Jeddah, Saudi Arabia
Oleh: Ustadz DR. Ali Musri SP *
Artikel www.muslim.or.id

Senin, 19 Oktober 2015

Kartu Undangan

Bismillaah...
Parno Kartu Undangan...

Huaaaafffffhht...
Memelas dada dan bernafas berat...
Membungkam bibir dan bergetar tangan...
Merintih hati, mengasihani diri dan tercubit sadar...
Hei!!! kamu kapan???!!! teriak bayanganku dan teman yang lebih muda dariku!
Geregetttt!! rasanya ingin ku tendang sana, masuk ke gawang dan teriakan dia puas!!
Yah, itu reaksi pertama ketika namaku tertera dalam kartu undangan.
"Nina Tarmila di Tempat"

Ketika sepantaranku, lebih muda dariku, teman-teman sekolahku, rekan kerjaku, tetanggaku,
adik sepupu, teman kajian, teman FB-an, dannnnn orang di pinggir jalan yang sedang hajatan yang terlihat dalam pandangan.
Mereka menikah dengan laki-laki yang menginginkan mereka,
itu sesuatu rasanya..

Ya Alloh, hati ini begitu rapuh...
Ingin menangis, kapan giliranku?? kapan aku dilamar? kapan aku dinikahi?
kapan aku merasakan proses indah itu?
kapan aku dibimbing oleh seorang yang bernama suami?
kapan aku dinafkahi oleh orang yang mau menjadi tulang punggungku?
kapan aku menjadi tulang rusuknya?
bahkan, hati ini menjerit dan iri ketika kajian melihat beberapa pasangan muda dan tua.
yang semangat hadir di majlis ilmu bersama, bahkan dengan anak-anak kecilnya..

Yah, itulah hati yang rapuh...
Lantas akupun berlari, semangat dan membela-belakan waktuku untuk kajian.
Pulang kerha di Rabu malam ba'da maghrib di Masjid An Nur Kampus Pramita Karawaci.
Pulang kerja di Sabtu sore ba'da ashar di Yayasan Syihabussunnah Lagoon Citra Raya.
Hari ahad jika ada info kajianpun akan ku laju si mipink ku. yah jika masih dalam jarak binong-bonang-serpong.

Mengapa kajian??, ya itu pelarianku...
Bukan ke puncak gunung teriak bersama awan, karna gak sanggup jalan naik. (kapok ke ciampea)
Bukan ke pantai, menyaut deburan ombak, karna tak tahu jalan juga kalo kepantai.
Bukan ke dufan, naik wahana adrenalin. karna rupanya teriakan itu hanya sesaat lalu kembali sedih.
Bukan, bukan kemana-mana...

Aku butuh teguran
Aku butuh nasihat
Aku butuh tamparan
Aku butuh penyadaran
Aku butuh guru
Aku butuh orang yang mengenalkanku padaNya
Aku butuh cahaya, dan cahaya itu adalah ilmu.
Aku butuh Alloh...

Di kajian, aku kembali diingatkan.
Bahwa semua tertulis sudah pada lauhul mahfudz, kebahagian dan kesedihan.
Rencana ku dan manusia lainnya akan berakhir sesuai rencana dan kehendakNya
Semua usaha manusia, akan kembali pada garis takdirNya.
Qodarullah, itulah mantra ajaib sebagai penenang diriku.

Di kajian, aku kembali diingatkan.
Belajar semakin bersyukur dan ikhlas.
Apa yang baik menurut mata manusia belum tentu baik dimataNya, pun sebaliknya.
Bersyukur bahwa yang gagal itu ta'arufnya, bukan saat pernikahannya.
Bersyukur, bahwa mungkin ini waktunya untuk lebih berbakti kepada orangtua dan menyenangkan mereka.
Bersyukur bahwa masih ada waktu kesendirian.
Ikhlas bahwa diri ini masih harus menjadi tulang punggung keluarga.
Ikhlas bahwa diri ini masih harus mengantar sukses sang adik tercinta.
Ikhlas bahwa Alloh masih menyayangi kesendirianmu.
Ikhlas bahwa ini semua rencana indahNya.
Ikhlas bahwa Alloh sudah siapkan, jadi no worry.
Ikhlas bahwa yakin nanti jodoh itu pasti bertamu.
Dan semua indah di waktu yang tepat menurutNya...

Fashbiir Shobron Jamiilaa...
 

Bumi cinta
6 Muharram 1437 H/19102015
~Nina Bintu Muchtar~